Relevansi Keadilan Dalam Membawa Titah Tuhan di Kehidupan Nyata.

oleh

SURABAYA,rakyatjelata.com – Dalam menyikapi beberapa kejadian yang terjadi akhir akhir ini, hingga sampailah pada peristiwa pengeboman di Surabaya tepatnya  dibeberapa gereja pada hari Minggu 13/5/18 membuat masyarakat Indonesia khususnya Surabaya semakin cerdas dalam memahami sebuah arti keadilan dan bentuk Cinta serta kasih sayang. 

Masyarakat semakin dewasa dalam bertindak dan berpikir bahwa kekerasan dan tindakan penghancuran bukanlah solusi terbaik bagi bangsa ini. merujuk pada ajaran yang di berikan oleh para nabi yang mendapat titah langsung dari sang pencipta bahwa Cinta Kasih adalah segala galanya.

Dari ulasan beberapa kejadian yang terjadi saat ini membuat beberapa tokoh ikut tergerak dalam memberikan sumbangsih pemikirannya. apapun pemikiran itu berharap dapat menjadi tolak ukur bagi Pemerintah dan semua masyarakat dalam memilih dan memilah sebuah ajakan yang mengarah pada ajaran radikal. tentu saja hal itu tidak mudah, semua harus berperan serta dalam menjaga dan menciptakan agar situasi dapat tetap kondusif tanpa adanya isu yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan.

Seperti apa yang di sampaikan oleh Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro,SE.MM pada kesempatan terbatas dengan awak media Rakyatjelata.com. bahwa peran serta Televisi dalam hal ini menjadi kata kunci yang tidak bisa di anggap remeh. Minggu 13/5/18

“Komisi penyiaran Indonesia Harus lebih maksimal dalam mengawasi penyiaran di beberapa Televisi. kalau bisa TV jangan mau jadi corong penceramah yang radikal. kita punya BNPT dengan Programnya yang lebih fokus kepada deradikalisasi. dan program itu menghabiskan dana yang cukup besar. tetapi proses Radikalisasi justru muncul di Televisi dan siaran di Youtube. jika program ini berjalan secara pelan dan terseok seok maka kecil harapan kita untuk terbebas dari teroris” tukasnya.

” Selain itu masyarakat juga harus memahami bahwa menampilkan pembicara Agama yang membawa paham Radikal, Bahayanya sama dengan bahaya Narkoba dan masa depan bangsa yang di takdirkan plural ini menjadi taruhannya” imbuh Norman yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PERNUSA dan Ketua HIPSI Jakarta.

Di lain kesempatan, seorang Purn Kolonel Laut Ir Jusuf Mahdi, MM yang juga menjadi pemerhati bangsa dan Dosen dibeberapa perguruan tinggi di Surabaya juga ikut memberikan pendapatnya.

Purn. Kolonel Laut. Ir. Jusuf Mahdi MM

“Walaupun setiap daerah, suku dll memiliki adat istiadat yang berbeda tetapi tidak ada yang menyimpang dari tuntunan syariat Islam misalnya dalam tatacara pernikahan, kematian, dll. Inilah kelebihan Bangsa Indonesia, walaupun terdiri dari bermacam suku bangsa, daerah , adat istiadat dan budaya maka Islam tetap satu walaupun ada berbagai madzhab yang dijalankan oleh penganutnya.  Maka inilah makna utama dari pengejawantahan nilai luhur yang ada di Pancasila berupa kebertuhanan, kemanusiaan, keberadaban , persatuan, kesatuan, kerakyatan yang saling menghormati, saling tepo seliro, mengutamakan musyawarah mufakat serta keinginan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial yang dapat dirasakan dalam negeri yang aman, damai,  tenteram (baidatun toyyibatun war robbun ghafuur)” tuturnya kepada rakyatjelata.com

Tak hanya itu, Jusuf Mahdi juga menambahkan, ” Kalau ada pemahaman yang lain dari hal diatas  maka mungkin ada kegagalan pemahaman tentang arti, makna dan essensi tentang istilah Islam Nusantara itu, ataukah saya sendiri yang tidak paham tentang apa yang dibumikan oleh orang cerdik pandai di Indonesia ini. dan apakah pengertian dan pemaknaan GARIS KERAS itu??  Garis keras adalah semua orang yang menentang adanya kemungkaran, kejahatan, kemaksiatan, ketidakadilan, pemerasan atas manusia oleh manusia lainnya dan perlakuan yang tidak manusiawi dalam berkehidupan. Dan siapapun yang memegang prinsip diatas adalah seorang garis keras, apapun agamanya, sebab tujuan utama dari sikap tersebut adalah dapat Meraih Kemuliaan sebagai hamba Allah yang diberi kriteria mulia oleh Allah swt, Sang Maha Pencipta.

Maka setiap sosok manusia Indonesia haruslah mempedomani hal diatas dalam pemahaman yang logik, realistis dan ilmiah agar   dapat melakukannya dalam langkahnya menapaki jalan kehidupan dalam berKeadilan” imbuhnya.

Oleh karenanya, pengertian Islam Nusantara itu adalah islam yang dijalankan di bagian belahan bumi yang berada di khatulistiwa dan bernama Indonesia / Nusantara dengan tidak menyimpang dari inti dan essensi Islam yang sebenarnya, santun, rukun dan saling menyayangi sesama. (kiki/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *