Khofifah Atasi Kekeringan Dengan Sumur Bor Sedalam 2 Km.

oleh

SURABAYA, rakyatjelata.com – Dalam rangka meminimalir kekeringan air, Gubernur Jatim periode 2019 – 2024 Khofifah Indar Parawansa akan menyiapkan sumur bor dengan kedalaman 2 kilometer untuk mengatasi kekeringan di sejumlah daerah di Jatim. Sumur ini diharapkan bisa menjadi solusi kekeringan.

“Saat di Kemensos, yang saya lakukan di NTT secara topografi lebih sulit. Tetapi ada pakar dari Bandung yang waktu itu sampai dengan 2 kilometer mengambil sumber airnya, kemudian kemiringannya sampai 80 derajat,” terangnya usai menghadiri kerjasama bidang pertanian antara HKTI dengan Bulog Divre Jatim serta Badan Ketahanan Pangan Nasional di UINSA, Minggu (19/8/2018).

Sebenarnya metode ini juga dipercaya oleh ketua PP Muslimat NU itu dapat dilakukan di Sampang. Mengingat topografi wilayah Madura relatif lebih baik jika dibandingkan dengan NTT. Untuk itu, dirinya berencana akan menerapkan hal yang sama untuk mengairi lahan pertanian disana.

ketua pemuda tani HKTi Jatim bersama Khofifah gubernur Jatim .

Kendati demikian, Khofifah tidak menampik bahwa pengeboran dengan teknis seperti itu akan menelan biaya yang tidak sedikit. Namun, cara tersebut diyakini akan menjadi solusi bagi wilayah-wilayah yang secara rutin mengalami kekeringan.

“Tetapi memang sedikit agak mahal (biayanya),” sebutnya.

Selain itu dirinya menyiapkan peta terkait kebutuhan petani. Mulai dari bibit, kebutuhan pupuk hingga permasalahan pasokan air yang sering dikeluhkan ketika musim kemarau.

“Air itu menjadi kebutuhan para petani, terutama yang bercocok tanam padi. Ketika membutuhkan air maka membutuhkan sumur bor misalnya. Peta kebutuhan sumur bor untuk bisa mengairi sawah harus detail,”  ujar Khofifah.

Selain itu, pendataan juga dilakukan terhadap luasan embung yang ada di Jatim. Dia pun mengapresiasi langkah swasta yang mau membuat tempat penampungan air tersebut dengan luas 40 hektar di Sedayu.

Baginya, embung tersebut sangat bermanfaat terutama dalam menampung air. Terutama ketika musim penghujan yang seringkali menggenangi sawah petani di daerah aliran Sungai Bengawan Solo.

Untuk itu, kedepan pihaknya berencana menggandeng swasta serta pemerintah kabupaten/kota yang bersedia membangun embung di daerah aliran sungai Bengawan Solo.

“Nah sekarang sudah ada refrensi dimana swasta terlibatkan sampai 40 hektar (pembuatan embung) di Sedayu. Saya (akan) ajak swasta lain dan pemkab mumpung sekarang revisi RT RW provinsi,” urainya.

Di samping mengajak membangun embung, Khofifah juga akan mendata kebutuhan air masyarakat Jatim. Dengan begitu dapat diketahui berapa luasan lahan yang perlu disiapkan.

selain itu, Ketua pemuda tani HKTI Jatim Muhdor ali juga menambahkan, “akan adanya kesiapan  yang harus di utamakan adalah peran serta seluruh pemuda agar dapat ikut menjaga dan melestarikan budaya tani di indonesia khususnya” (kiki/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *