Bapak Sanitasi, Warga Belanda Yang Peduli Surabaya.

oleh

SURABAYA, rakyatjelata.com – Masih dalam suasana memperingati HUT RI ke 73, penelusuran rakyatjelata  untuk lebih mengenal situs perjuangan arek arek SUROBOYO saat itu semakin menarik. Di pandu bersama komunitas “”SURABAYA HISTORICAL”  yang di gawangi oleh Wawan mengajak untuk mengenal lebih jauh sejarah Fredrik Jacob Rothenbuhler yang saat itu merupakan Penguasa Bagian Timur Pulau Jawa “Gezagehebberin den Oostheoek”, yang pada tanggal 6 September 1799 menggantikan Dirk van Hogendorp. Ia bertempat tinggal di Tuinhuis atau sekarang bernama Gedung Negara Grahadi.

Senin Agustus 20/2018

Di masa pemerintahannya, ia sangat peduli dengan kebersihan, kesehatan dan sanitasi masyarakat Kota Surabaya.

tetenger yang ada di depan pintu makam Bapak Sanitasi Surabaya. Foto : kiki.

Rothenbuhler cepat tanggap pada saat Surabaya mengalami wabah penyakit cacar. Bersama dengan dokter berkebangsaan Perancis ia memvaksinasi penduduk Surabaya, tidak hanya bangsa eropa tetapi juga kaum pribumi yang terjangkit virus cacar. Pada saat Surabaya dalam kekuasaan pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816), F.J. Rothenbuhler dipercaya pemerintah Inggris dalam memperbaiki buruknya sanitasi di Kota Surabaya. Kalimas sebagai sumber utama air minum di Surabaya, banyak digunakan warga untuk mandi, cuci dan kakus sehingga mengganggu kesehatan.

makam dengan piala di atasnya.

F.J. Rothenbuhler juga tanggap dalam hal mengatasi masalah pengemis di Surabaya. Pengemis-pengemis tersebut dikumpulkan ditempat penampungan di Kali Pegirian. Disana mereka diberi makanan, pakaian, uang saku dan perawatan kesehatan. Mereka tidak diperbolehkan keluar dari penampungan sebelum sembuh dari kebiasaan mengemis.

F.J. Rothenbuhler meninggal tanggal 21 April 1836, makamnya ditempatkan di bukit Gunungsari tepatnya di tengah Lapangan Yani Golf. Piala yang terbuat dari Perunggu tersebut merupakan penghargaan atas jasa-jasanya memberantas penyakit cacar di Surabaya yang dulu ditempatkan didepan gerbang makam.

Seiring berjalannya waktu piala tersebut diletakkan diatas makam F.J. Rothenbuhler. Dan sampai saat ini masyarakat Surabaya mengenalnya dengan sebutan “Mbah Deler”.

penulis : Surabaya Historical

Redaksi.: kiki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *